Jumat, 15 Mei 2009

Persiapan Indonesia Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia


Jakarta - Salah satu syarat utama sebuah negara mengajukan diri sebagai calon tuan rumah Piala Dunia adalah sanggup menyediakan stadion berstandar sangat tinggi versi FIFA. Punyakah Indonesia?

FIFA punya aturan bahwa untuk menghajat Piala Dunia, stadion yang digunakan minimal berkapasitas 40 ribu tempat duduk. Khusus untuk laga pembukaan dan final, stadion itu harus bisa menampung sedikitnya 80 ribu penonton.

Itu baru dalam hal kapasitas, belum termasuk sarana dan fasilitas penunjang yang lain,mulai dari rumput, dressing room, shower room, sampai hal-hal lain di luar stadion seperti transportasi dan lain-lain.

Di Eropa, misalnya, sebagaimana diketahui sangat rapi dalam hal kemudahan akses calon penonton buat ke stadion sehingga tidak menimbulkan macet di hari pertandingan, juga sistem parkir yang bagus dan lain-lain.

Maka ketika PSSI mengajukan proposal pencalonan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022, stadion adalah salah satu masalah terbesar yang sangat gampang dipertanyakan. Siapkah Indonesia menyediakan minimal delapan stadion berstandar FIFA?

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengutarakan keyakinannya. "Harap dicatat, stadion bagus di Indonesia itu bukan cuma Gelora Bung Karno," ujarnya dalam wawancara dengan detiksport, Kamis (29/1/2009).

Ia lalu menyebut beberapa stadion lain yang sudah berdiri sesuai standar internasional, yakni Gelora Sriwijaya di Jakabaring, Sumatera Selatan, dan Stadion Palaran, yang tahun lalu dipakai untuk PON XVII di Samarinda.

"Juga kita akan punya stadion bagus lain di Gede Bage (Bandung), Tenggarong (Kutai Kertanegara), dan Banten. Saya rasa kita bisa (menggelar Piala Dunia). Dan untuk menyempurnakannya kita masih punya banyak waktu," tukas Menteri.

Ia lalu menyebut contoh Piala Asia 2007 di Jakarta. Presiden AFC Mohamed bin Hammam dikatakan Adhyaksa akhirnya merasa puas dengan GBK yang dalam waktu satu tahun bisa memenuhi standar yang ditetapkan badan sepakbola tertinggi di Asia itu.

Satu hal yang ingin ditekankan Adhyaksa terkait pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia adalah pengalaman.

Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022 ??

Seminggu yang lalu saya dibikin shock oleh suatu berita dimana diberita itu menyebutkan Amerika Serikat berniat untuk mencalonkan diri untuk jadi tuan rumah piala dunia 2022, dan untuk menjadi tuan rumah, AS harus bersaing dengan negara-negara lain seperti Australia, Rusia, Meksiko, Indonesia, Korsel, Jepang dan Qatar, juga duet Belanda-Belgia serta Spanyol-Portugal. Upss…tentunya temen-temen tahu alasan mengapa saya shock ?? yap ! lihatlah di antara negara-negara calon Host Piala Dunia 2022 itu, ada Nama Negara kita, INDONESIA !!! Itu berarti, Indonesia juga mencalonkan diri untuk jadi Tuan Rumah Piala dunia 2022 ?? “ahh..itu paling wartawannya salah ketik”, pikir saya saat pertama membaca berita itu.

Namun, keraguan saya tentang berita seminggu yang lalu itu salah. Kemaren (10/2), saya membaca Jawa Pos rubrik Olahraga, saya membaca besar-besar judul di salah satu kolomnya, “Piala Dunia Bukan Ide Gila”. Oh God ….ternyata Indonesia benar-benar serius jadi Host PD 2022 !!!! masih nggak percaya, saya pun membaca dengan khusyuk berita itu.

Dari berita kemaren itu, saya baru tahu kalo sebenarnya PSSI sebagai badan tertinggi sepakbola di negara kita sudah lama mencalonkan diri ke FIFA, tetapi baru secara resmi dipublikasikan ke publik, Senen (9/2) lusa, bertepatan dengan hari Pers Nasional. *Waaw….berarti nggak main-main nih PSSI !!!

Untuk mendukung rencana besar itu, PSSI sudah menyiapkan 13 Stadion, diantaranya Stadion Gelora Bung Karno (Jakarta), Gelora Sriwajaya (Palembang), dan Palaran (Samarinda). Ngomong-ngomong, dana yang dibutuhkan untuk bisa memperbaiki semuanya (infrastruktur) kira-kira sebesar 8-10 Triliun Rupiah. Alamaaaakkkk!!!!!! Banyak bangeeeetttt !!!!! Dan semua dana nantinya akan ditangani oleh pemerintah. *Waaaaww……gilagilagila !!

Dalam pencalonan ini, Indonesia mengajukan tema Lingkungan, sebagai bahan jualan agar terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia (PD) 2022. Pemilihan tema itu karena melihat Indonesia sebagai paru-paru dunia. *Weww…..PD (percaya diri) juga ya PSSI.

Pemerintah melalui Adhyaksa Dault selaku Menteri Negara Pemuda dan olah Raga, mendukung penuh pencalonan Indonesia sebagai host PD 2022 mendatang, “Ini adalah harta yang berharga bagi bangsa Indonesia. Karena itu, pemerintah mendukung rencana besar PSSI ini”, tegas Adhyaksa seperti apa yang disampaikan di Jawa Pos kemaren (10/2).

Weeww..kalo dipikir-pikir sih, keren juga kali ya kalo seandainya Negara kita menjadi tuan rumah penyelenggaraan event seakbar PD 2022. Pikir deh, seandainya Indonesia bisa menjadi tuan rumah, artinya otomatis Indonesia juga menjadi salah satu dari tim yang akan bertanding di piala dunia bukan ??? karena tuan rumah akan mendapat tiket gratis lolos langsung ke putaran final Piala Dunia tanpa melewati babak kualifikasi sebelumnya. Artinya Indonesia akan bermain bersama Timnas sekelas Brazil, Inggris, Jerman, Argentina, Italia, dan Prancis yang menjadi peserta langganan Piala Dunia. Weewww….nggak bisa dibayangin !!

Hmm…tapi saya mesti bangun dari mimpi ini, saya mesti lihat realita !!! lihat deh, Indonesia sekarang perkembangannya gimana !! bukannya Indonesia dikenal sebagai negara yang tidak aman karena banyak teroristnya ?? bukannya misal PD 2022 jadi di Indonesia nantinya mungkin akan terjadi bom dimana-mana karena itu tentunya mejadi ladang bagi para terorist. Hahahaha…bisa terjadi kan seperti itu.

KEAMANAN menjadikan alasan pertama bagi saya sebagai penikmat sepakbola yang menyatakan pesismiss dengan pencalonan negara tersayangku ini menjadi Host PD 2022.
SAINGAN jadi alasan kedua saya. Lihat, siapa saingan Indonesia dalam pencalonan menjadi tuan rumah PD !! semua negara yang kaya, diakui, dan berprestasi sepak bolanya di tingkat Internasional. Bandingin deh, Indonesia dengan AS. Lalu, Indonesia harus bersaing dengan negeri adidaya lainnya semacam Rusia. 2 macan Asia, Korsel dan Jepang. Negara kaya minyak, Qatar, dan Negara yang sukses dengan Olimpiade Sidney thn 2000 silam, Australia. Oh God…!!

Tapi yasudahlah, bukannya kita sebagai warga biasa harus menghargai dan menghormati usaha PSSI dan Pemerintah untuk bisa mewujudkan cita-cita sangat besar itu. toh, nantinya misal cita-cita itu terealisasikan, keuntungannya akan kita dapatkan sendiri juga. Tapi rasa pesimiss itu tak bisa dihapuskan oleh diri ini.

Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta Utara

Persatuan Sepak bola Indonesia Jakarta Utara (disingkat Persitara) adalah sebuah perserikatan sepak bola yang bermarkas di Jakarta Utara. Persitara berdiri pada tahun 1976.

Awalnya bernama Persija Timur/Utara. Tim yang diterima sebagai anggota PSSI pada tahun 1980 ini memiliki julukan Si Pitung, dan didukung oleh kelompok suporter yang menamakan dirinya The North Jak, dan Bajak Laut.



PERSITARA
Logo Persitara
Nama lengkap Persatuan Sepak Bola
Indonesia Jakarta Utara
Julukan Si Pitung
Didirikan 1985
Stadion Stadion Kamal Muara
Jakarta Utara, Indonesia
(Kapasitas: 10,000)
Ketua Umum Drs. HM. Effendi Anas, Msi
Manajer Harry Ruswanto
Pelatih Dick Buitelaar
Liga Liga Indonesia
2008 Liga Super Indonesia

Team colours Team colours Team colours
Team colours
Team colours
 
Kostum kandang
Team colours Team colours Team colours
Team colours
Team colours
 
Kostum tandang

Minggu, 10 Mei 2009

Daftar Sebelas Pemain Tengah Terbaik Dunia Sepanjang Karir Sepak Bola

Ini adalah daftar pemain tengah terbaik di dunia sampai saat ini,


Diego Maradona (Argentina)


Kebengalannya tidak lantas membuat orang menutup mata atas bakat yang dimilikinya. Pada 2000 ia berbagi mahkota Pemain Terbaik Abad Ini versi FIFA bersama Pele, setelah sebelumnya menduduki tempat teratas pada polling online FIFA tentang Pemain Terbaik Abad ke-20. Meski "Gol Tangan Tuhan"-nya banyak menimbulkan kontroversi, siapa yang mampu melupakan gol-nya yang ditembakkan dari jarak 60 meter melawan Inggris di perempat-final Piala Dunia 1986? Bahkan Platini pernah berkata, "Apa yang bisa dilakukan oleh Zidane dengan bola, Maradona (foto) mampu melakukannya dengan sebuah jeruk."


Pele (Brasil)

Edison Arantes do Nascimento atau lebih dikenal sebagai Pelé (lahir 23 Oktober 1940; umur 68 tahun) adalah legenda sepak bola dunia yang berasal dari Brasil. Selama kariernya sebagai pemain, Pele berhasil membawa Brasil menjadi Juara Dunia Sepak bola sebanyak 3 kali, yaitu pada tahun 1958 di Swedia, tahun 1962 di Chili, dan tahun 1970 di Meksiko. Berkat keberhasilannya tersebut, Brasil berhak atas Piala Jules Rimet.

Dia lahir di Três Corações, Minas Gerais, Brasil.


Johan Cruyff (Belanda)

Cruyff adalah pemegang gelar Pemain Terbaik Eropa tiga kali, rekor yang dibaginya bersama Platini dan Marco van Basten. Pada 1999, ia terpilih sebagai Pemain Terbaik Eropa Abad Ini versi IFFHS, dan hanya kalah oleh Pele di kategori Pemain Terbaik Dunia Abad ini. Selain dikenal karena sebagai penganut Total Football nomor satu, ia merupakan pemain yang sangat tenang menghadapi saat-saat sulit.


Michel Platini (Prancis)

Dunia mengenalnya sebagai salah satu spesialis tendangan bebas terbaik sepanjang sejarah, selain juga pengumpan yang handal. Di negara asalnya, tak diragukan lagi, ia adalah gelandang terbaik Prancis. Sepak terjangnya di lapangan hijau bahkan mampu membuat Zidane terlihat kecil. Dan itulah yang dikatakan Zidane tentang bintang pujaannya, "Saat saya kecil, saya selalu memilih untuk bermain sebagai Platini bersama teman-teman."




Zico (Brasil)

Di mata Pele, Zico adalah pemain yang bisa disejajarkan dengan dirinya. Tak heran jika ia dijuluki "Pele Putih". Meski dikaruniai bakat yang luar biasa dan sering diakui sebagai pemain terbaik dunia pada awal 80-an, ia tidak pernah memenangkan Piala Dunia. Padahal, ia mencetak 66 gol dari 88 pertandingan untuk Brasil, dan tampil di Piala Dunia empat kali, yaitu pada 1978, 1982 dan 1986 World Cups, dengan tim 1982 banyak diakui sebagai yang paling hebat dalam sejarah Brasil, selain tim 1970.



Roberto Baggio

Siapa yang tak mengenal Il Codino? Ia adalah pemain paling populer sepanjang 1990-an dan awal 2000, dan hingga kini merupakan satu-satunya pemain Italia yang mampu mencetak gol pada tiga Piala Dunia. Pada Piala Dunia 1994, ia berkali-kali menjadi juru selamat Italia, dan membuka jalan ke final. Sayang tendangan penaltinya yang melenceng di final membuat Italia gagal menjadi juara untuk yang keempat kalinya.




Ruud Gullit (Belanda)

Peraih gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA 1987 dan 1989, ia mampu bermain di berbagai posisi. Ia turut bermain dalam pasukan Belanda yang memenangkan Euro 1988, sekaligus Piala Dunia 1990. Kedatangannya di Milan mampu mengangkat klubnya untuk memenangkan mahkota Serie A Italia untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir.





Zinedine Zidane (Prancis)

Inilah salah satu dari dua pemegang gelar Pemain Terbaik Dunia tiga kali, disamping Ronaldo. Pada penampilan debutnya bersama Prancis, ia mencetak dua gol ke gawang Republik Ceko pada 1994. Namun, baru empat tahun kemudian ia menjadi legenda hidup dengan dua gol di final versus Brasil. Pada 2001, ia diboyong oleh Real Madrid dengan rekor transfer termahal senilai €76 juta.






Kaka (Brasil)

Pele pernah berujar, Kaka adalah pemain terbaik di dunia. Tahun lalu ia meraih Bola Emas, dan FIFA-pun tak ragu-ragu menganugerahkan gelar Pemain Terbaik Dunia kepadanya. Selasa lalu, (14/10), jejak kakinya diabadikan di sebelah Zico si stadion terbesar Brasil, Maracana. Mungkin kekurangannya hanyalah karena ia belum pernah memenangkan Scudetto bersama Milan.





Cristiano Ronaldo (Portugal)

Banyak dikecam karena kelakuannya di luar lapangan, tahun ini ia justru berada di puncak ketenaran. Setelah mencetak 42 gol dalam 49 pertandingan, rasanya pantas saja jika ia dijagokan menjadi penerima Bola Emas tahun ini. Tak kurang dari Johan Cruyff juga mendukungnya. Katanya, "Ronaldo lebih baik dari George Best dan Denis Law, padahal keduanya merupakan pemain terhebat dalam sejarah United."





Gheorghe Hagi (Rumania)

Sang "Maradona dari Balkan" ini banyak dipuja di Rumania dan Turki. Tiga kali tampil di Piala Dunia, ia mencetak 126 kemenangan untuk Romania, dan merupakan topskor dengan 35 gol. Ia adalah satu dari sedkit pemain yang pernah tampil untuk Real Madrid dan Barcelona.

[Kisah] SI PITUNG - Jagoan Betawi

Name asli dari SI PITUNG...SEBUTAN LAEN : BABE adalah:RADEN MUHAMMAD ALI BIN RADEN SAMIRIN BIN RADEN ABDUL KHADIR BIN PANGERAN RADEN JIDAR (NITIKUSUMA KE-5)


Beliau lahir di petunduan palmerah pada tahun 1874 dan wafat pada tahun 1903 di bandenagan utara kecamatan penjaringan-JAKARTA,Beliau termasuk pahlawan BETAWI dalam melakukan perlawanan terhadap tuan-tuan tanah Cina dan Belanda.

Dalam perjuangannye si Pitung selalu menggunakan silatnye untuk Amarmakruf nahi munkar nyang berarti mengajak orang ke jalan kebaikan dan mencegah kesesatan.Jagoan BETAWI nyang sebenarnye JAGO punye sifat: jujur,tidak takabur,berbudi pekerti baik,peka terhadap penderitaan orang lain.
Memang jagoan-jagoan betawi ade juge nyang jahat yaitu jagoan-jagoan bayaran yang di sewa untuk membela tuan-tuan tanah dan penjajah belande,jagoan-jagoan ini doyan kekerasan biasanye di panggil Si tukang kepruk.
Jagoan-jagoan ini tidak lagi mempergunakan ilmu kesaktian dan bela dirinya untuk mencapai kesempurnaan spiritual sebagai manusia, tetapi sebaliknya disalahgunakan untuk mendapatkan kepuasan materi.

Misalnye dulu, pada zaman cultuur stelsel (tanam paksa), sebagian besar jago lebih suka berpihak kepada mesin sistem ekonomi kolonial atau tuan tanah ketimbang membela kaum lemah. Mereka menjadi tukang pukul untuk memaksakan kepentingan tuan tanah di wilayah particuliere landerijen (tanah-tanah partikulir) seperti di Tangerang, Ciomas, Bekasi, dan Cililitan.

di riwayatkan di tanah-tanah partikulir itu penindasan kaum tani lebih kasar dan keji dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa. Particuliere landerijen adalah tanah-tanah milik pribadi nyang sangat luas yang pemilik-pemiliknya dapat disebut tuan-tuan tanah yang mempunyai hak feodal para penyewa tanah mereka, termasuk hak istimewa untuk memungut pajak-pajak pribadi dan tugas-tugas kerja paksa yang berat. Pemerintah jajahan jarang campur tangan dalam urusan intern tanah-tanah milik itu, jadi memperbolehkan penyalahgunaan nyang melampaui batas untuk terus berlangsung tanpa ada usaha perbaikan.

[Kisah] SI PITUNG - Jagoan Betawi

Name asli dari SI PITUNG...SEBUTAN LAEN : BABE adalah:RADEN MUHAMMAD ALI BIN RADEN SAMIRIN BIN RADEN ABDUL KHADIR BIN PANGERAN RADEN JIDAR (NITIKUSUMA KE-5)


Beliau lahir di petunduan palmerah pada tahun 1874 dan wafat pada tahun 1903 di bandenagan utara kecamatan penjaringan-JAKARTA,Beliau termasuk pahlawan BETAWI dalam melakukan perlawanan terhadap tuan-tuan tanah Cina dan Belanda.

Dalam perjuangannye si Pitung selalu menggunakan silatnye untuk Amarmakruf nahi munkar nyang berarti mengajak orang ke jalan kebaikan dan mencegah kesesatan.Jagoan BETAWI nyang sebenarnye JAGO punye sifat: jujur,tidak takabur,berbudi pekerti baik,peka terhadap penderitaan orang lain.
Memang jagoan-jagoan betawi ade juge nyang jahat yaitu jagoan-jagoan bayaran yang di sewa untuk membela tuan-tuan tanah dan penjajah belande,jagoan-jagoan ini doyan kekerasan biasanye di panggil Si tukang kepruk.
Jagoan-jagoan ini tidak lagi mempergunakan ilmu kesaktian dan bela dirinya untuk mencapai kesempurnaan spiritual sebagai manusia, tetapi sebaliknya disalahgunakan untuk mendapatkan kepuasan materi.

Misalnye dulu, pada zaman cultuur stelsel (tanam paksa), sebagian besar jago lebih suka berpihak kepada mesin sistem ekonomi kolonial atau tuan tanah ketimbang membela kaum lemah. Mereka menjadi tukang pukul untuk memaksakan kepentingan tuan tanah di wilayah particuliere landerijen (tanah-tanah partikulir) seperti di Tangerang, Ciomas, Bekasi, dan Cililitan.

di riwayatkan di tanah-tanah partikulir itu penindasan kaum tani lebih kasar dan keji dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa. Particuliere landerijen adalah tanah-tanah milik pribadi nyang sangat luas yang pemilik-pemiliknya dapat disebut tuan-tuan tanah yang mempunyai hak feodal para penyewa tanah mereka, termasuk hak istimewa untuk memungut pajak-pajak pribadi dan tugas-tugas kerja paksa yang berat. Pemerintah jajahan jarang campur tangan dalam urusan intern tanah-tanah milik itu, jadi memperbolehkan penyalahgunaan nyang melampaui batas untuk terus berlangsung tanpa ada usaha perbaikan.

PROFIL Persitara Jakarta Utara

Berdiri: 1985Alamat: Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU), Jalan Yos Sudarso no. 27 - 29Telepon: (021) 86606058Ketua Klub: Effendi AnasStadion: Lebak Bulus Jakarta

Sejarah Singkat

Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta Utara atau lebih dikenal dengan sebutan Persitara adalah sebuah klub profesional yang berkedudukan di Utara ibu kota. Tim berjuluk Laskar Si Pitung adalah salah satu kontestan Superliga 2008/09, kompetisi paling elit di tanah air musim ini.

Sama halnya dengan tim asal Jakarta lainnya, Persitara hidup dari sokongan dana APBD DKI Jakarta. Hanya saja, sejak berdiri pada 1985, tim yang awalnya bernama Persija Timut-Utara (Persijatimut) tidak mendapatkan kucuran dana rakyat itu sama seperti yang diterima saudara tuanya Persija Jakarta Pusat.

Puncaknya ketika tampuk kepemimpinan di ibu kota dipegang Sutiyoso selama dua periode. Persitara sama sekali tidak diperhitungkan dan hanya dianggap sebagai tim pelengkap. Terlebih dengan munculnya wacana Jakarta Satu. Yakni hanya satu tim sepakbola yang tampil mewakili Jakarta. Itu dilihat dari dana APBD yang diperoleh. Persija mendapat dana APBD sekitar Rp22 milyar, sementara Persitara hanya kebagian Rp3 milyar.

Namun, semangat juang dan pantang menyerah tim yang dipimpin Walikota Jakarta Utara itu tidak pernah kendur. Termasuk melawan wacana Jakarta Satu itu, meski dengan keterbatasan dana yang dimiliki. Itu pula yang membuat beberapa tim lain di Jakarta, seperti Persija Barat, Persija Selatan, tidak tidak bisa bertahan.

Yang paling tragis tentunya adalah Persijatimur, yang merupakan pecahan dari Persitara. Karena merasa kurang mendapat perhatian akhirnya tim ini dijual ke Pemprov Sumatera Selatan, yang kemudian berubah nama menjadi Sriwijaya Football Club (SFC).

Di era perserikatan, prestasi terbaik Persitara terjadi pada musim 1985/86, ketika sukses menembus divisi utama. Sayang, Mansyur Lestaluhu dan kawan-kawan kala itu hanya mampu bertahan satu musim di level atas kompetisi sepakbola nasional dan kembali ke divisi satu.
Tragisnya, karena tak kunjung mendapat perhatian dari Pemprov DKI, prestasi Persitara pun terjun bebas, hingga berada di divisi II pada musim 2002. Dari situlah tim yang diterima menjadi anggota PSSI sejak 1980 ini mulai merajut prestasi, hingga akhirnya bisa menembus Superliga yang baru pertama kalinya digelar musim ini.

Kiprah Di Superliga

Sukses menembus Superliga membuat Persitara mulai mendapat sedikit perhatian dari Pemprov DKI, meski dana APBD yang dialokasikan tetap saja tidak seimbang dengan saudara tuanya Persija Jakarta. Di mana Macan Kemayoran dipastikan kembali mendapat kucuran dana itu sebesar Rp22 milyar, sementara Persitara konon mendapat Rp16 milyar.

Sayang, hingga jelang berakhirnya putaran pertama, dana yang menjadi penopang kehidupan Persitara itu belum juga cair, karena terbentur dengan larangan pemerintah pusat menggunakan dana APBD untuk sepakbola. Persitara pun dilanda krisis finansial hebat yangmengakibatkan pemainnya belum mendapatkan pembayaran uang kontrak dan gaji selama tujuh bulan.

Akibat krisis finansial itu pula Persitara harus kehilangan pelatih Ricard Razid Azreg. Pelatih asal Belanda ini memutuskan hengkang karena tak kunjung mendapat bayaran. Hal yang sama dilakukan Jacksen F Tiago, pelatih yang menggantikan posisi Azreg, yang kemudian hengkang ke Persipura Jayapura.

Imbas dari krisis finansial ini pun memengaruhi prestasi Persitara, sehingga terus berada di zona degradasi. Dari 15 pertandingan yang dilakoni, Hariman Siregar dan kawan-kawan baru mengeloksi 11 poin dan menempati urutan kedua dari dasar klasemen. Hasil dari dua kali menang, lima kali seri, dan delapan kali kalah.

Harapan Persitara untuk keluar dari "zona maut" itu memang masih terbuka. Asalkan mampu meraih poin sempurna dari Persijap Jepara dan PSM Makassar di laga terakhir.

Peluang Juara

Melihat posisi Persitara yang berada di zona degradasi dan memiliki selisih poin yang cukup jauh dengan tim-tim papan atas, sangat musthalil tim ini mampu meraih juara Superliga musim ini. Yang paling realistis adalah bagaimana meyelamatkan tim ini agar tetap tampil di kasta tertinggi kompetisi sepakbola nasional musim berikutnya. Jika tidak hati-hati, maka jelas Persitara tetap akan berada dalam "zona merah" di putaran kedua.

Tapi sebetulnya, kendala utama yang dihadapi Persitara hanyalah masalah finansial. Begitu dana APBD DKI Jakarta itu cair, bisa dipastikan prestasi Persitara akan membaik. Hal itu karena dari segi materi pemain yang mengisi skuad tim besutan Dadang Iskandar itu cukup lumayan. Sederet nama yang sudah tidak asing di pentas sepakbola nasional seperti Rahmad Rivai, Taufik Kasrun, dan mantan kiper timnas U-23 Tri Prasnanto, menjadi jaminan untuk itu.
Prestasi

Liga Indonesia

1994/95: Divisi I 1995/96: Divisi I 1996/97: Divisi I 1997/98: Kompetisi dihentikan1998/99: Semi-final Divisi I1999/00: Peringkat ke-5 Divisi I Grup Tengah II2001: Peringkat ke-5 Divisi I Grup Tengah II2002: Degradasi ke divisi II2003: Peringkat ke-3 Divisi II Grup C2004: Delapan Besar Divisi II (Promosi ke Divisi I karena penambahan klub)2005: Peringkat ke-4 Divisi I (Promosi ke Divisi Utama)2006: Peringkat ke-8 Wilayah Barat2007: Peringkat ke-6 Wilayah Timur (Promosi ke Superliga)